Forum Pohon Langka Indonesia
"Kita Jaga Pohon Langka Indonesia"
Tentang Forum Pohon Langka Indonesia
Aksi Konservasi
15/05/2025
Selamatkan Pohon Langka Indonesia, Menanam Pohon mangga Kasturi yang statusnya punah di alam
24/04/2025
Konservasi Berkelanjutan Tumbuhan Langka dan Endemik Sulawesi: Syzygium contiguum & Syzygium galanthum.
23/04/2025
Optimalisasi Kawasan Arboretum Sylva Untan sebagai Kawasan Konservasi Spesies Pohon Langka Prioritas Nasional
02/02/2025
Small Grant Cycle 3: Tim Garsinia, komunitas Muda Bangka Belitung Pelestari Pohon Langka
02/02/2025
Rektor Universitas Brawijaya Tanam Pohon Langka di UB Forest
02/02/2025
FPLI Ex Situ Network Bangunan Jejaring Konservasi Pohon Langka Indonesia
Peta Persebaran Program Forum Pohon langka Indonesia
Detail
Berita & Publikasi
Gandeng Seniman BOGA, FPLI Selenggarakan Pameran Lukisan Botani: Jelajahi Flora Indonesia
STUDI AUTEKOLOGI LAGAN BRAS (Dipterocarpus cinereus Slooten) SEBAGAI POHON ENDEMIK DI PULAU MURSALA
Gerakan konservasi pohon langka Indonesia disampaikan dalam kuliah tamu di Sanata Dharma Yogyakarta
Publikasi
Pohon Langka Endemik pulau Mursala Dipterocarpus cinereus
Pohon lagan bras berukuran besar dengan diameter lebih dari 100 cm dan tinggi mencapai 50 m. Batang mengelupas tipis. Daun tunggal, lanset, 6-8 x 1,7-2,5 cm, menjangat tipis, pertulangan sekunder 7 – 9 pasang membentuk sudut tajam pada tulang daun primer (Gambar 6). Buah bersayap, dua sayap panjang (5 x 1,2 cm) dan tiga sayap pendek (5 x 5 mm)(Ashton, 1982). Hingga saat ini terdata hanya dijumpai di Pulau Mursala, Sumatra Utara. IUCN menyatakan bahwa jenis ini telah punah sejak 1998 (Ashton, 1998), namun pada 2013 tim ekspedisi Kebun Raya Bogor menemukan kembali jenis ini di Pulau Mursala (Kusuma dkk, 2013). Ancaman utama berupa pembalakan liar untuk dijual. Hingga saat ini pemanfaatan lagan bras diketahui hanya untuk kayu bangunan saja. Pohon langka Indonesia dan endemik di pulau Mursala, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara
Dipterocarpus littoralis pohon langka endemik pulau Nusakambangan
Pohon pelahlar (Gambar 2) dapat mencapai tinggi 50 m dan diameter lebih dari 150 cm. Kulit batang mengelupas, abu-abu, dan mengeluarkan resin bila ditakik. Daun penumpu berbulu kasar, merah tua. Daun tunggal, 16-25(-52) x 10-18(-28) cm, tersusun berseling atau spiral, helaian daun membundar telur, agak kaku dan berlipatan, pertulangan sekunder 19-24 pasang. Buah bersayap, 2 sayap panjang (24 x 4 cm) dan 3 sayap pendek (10 x 6 mm) (Ashton, 1982). Habitatnya di hutan campuran daerah rendah (lowland forest), di punggung bukit, lereng dan pinggiran aliran air, serta pada substrat tanah bukit kapur (limestone) di Nusakambangan bagian barat (Partomihardjo dkk, 2014). Kayunya digunakan untuk bahan bangunan, pembuatan kapal dan pertukangan, sedangkan resin digunakan untuk memakal perahu. Sebaran terbatas dan populasi sangat kecil serta ancaman tinggi, sehingga menempatkan Pelahlar dalam jenis prioritas I. Pohon langka Indonesia endemik pulau Nusakambangan, Cilacap Jawa Tengah
Pendaftaran Anggota Forum Pohon langka Indonesia
Gabung bersama kami
Vatica bantamensis pohon langka Indonesia endemik di Banten
Pohon resak banten mampu mencapai tinggi 30 m. Daun tunggal, agak tebal dan mengkilap, (4,5-) 7,5-18 x (1,8-) 3,5-7,5 cm, jorong atau lonjong, pertulangan sekunder 9 – 11 pasang (Gambar 4). Perbungaan dalam malai, muncul di ketiak atau ujung ranting. Buah bersayap lima, dua sayap panjang (9 x 2,5 cm) dan tiga sayap pendek (0,25 x 0,09 cm), biji agak membulat dengan diameter 10 mm. Pohon yang menjadi identitas Provinsi Banten ini diketahui hanya tumbuh di Taman Nasional Ujung Kulon, Banten pada hutan daerah rendah di lereng-lereng bukit atau gunung (Ashton, 1982). Kayunya dimanfaatkan sebagai bahan bangunan dan pembuatan kapal/perahu.
Vatica javanica subsp. javanica pohon langka endemik pulau Jawa Bagian barat
Pohon resak brebes berukuran sedang, tinggi mencapai 27 m dan diameter 25 cm. Kulit batang putih atau coklat keabuan dan memiliki garis-garis khas Vatica yang melingkari batang (Gambar 5). Dauntunggal, jorong – lonjong (13-24 x 6–10 cm), menjangat tipis, pangkal membundar atau agak menjantung, pertulangan sekunder 22-25 pasang, menyambung di tepi daun membentuk pertulangan intramarginal. Buah bersayap, dua sayap panjang (7,5 x 1,7 cm) dan tiga sayap pendek (0,3 x 0,07 cm). Jenis ini dilaporkan hanya tumbuh di hutan primer atau sekunder tua di daerah perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah, tepatnya Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes (Kalima, 2010).