Monitoring dan Perawatan ke-8 Pohon Langka di KHDTK UNS: Komitmen Bersama Menjaga Koleksi Pohon Langka
Surakarta, 14 Juni 2026 – Forum Pohon Langka Indonesia (FPLI) bersama Foresma (Forestry Student Association) Universitas Sebelas Maret (UNS) kembali melaksanakan kegiatan monitoring dan perawatan pohon langka di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) UNS. Kegiatan ini merupakan perawatan dan monitoring ke-8 yang dilakukan secara berkala sejak tahun 2025 sebagai bagian dari upaya memastikan keberhasilan konservasi ex situ berbagai jenis pohon langka, endemik, dan terancam punah di Indonesia.
KHDTK UNS merupakan salah satu mitra penting dalam pengembangan konservasi ex situ pohon langka. Di kawasan ini telah dikembangkan sebuah blok arboretum seluas sekitar 9 hektare yang secara khusus diperuntukkan sebagai lokasi koleksi dan pelestarian berbagai jenis pohon langka Indonesia. Hingga saat ini, tercatat sekitar 82 individu pohon langka yang tumbuh dan dipelihara di kawasan tersebut.
Koleksi pohon langka yang berada di arboretum KHDTK UNS terdiri atas berbagai jenis penting, antara lain Vatica javanica subsp. javanica, Dipterocarpus retusus, Dipterocarpus gracilis, Hopea billitonensis, Hopea odorata, Vatica rassak, Shorea leprosula, Castanopsis argentea, Garcinia rubescens, Randia sp., dan Wrightia sp. Sebagian besar jenis tersebut memiliki status konservasi yang memerlukan perhatian khusus karena populasinya di habitat alami terus mengalami tekanan akibat degradasi habitat dan perubahan penggunaan lahan.
Pohon-pohon tersebut mulai ditanam secara bertahap sejak tahun 2022. Bibit berasal dari berbagai lembaga dan pusat konservasi tumbuhan, seperti Kebun Raya Bogor, Pusdiklathut Gunung Batu Bogor, serta Persemaian Pohon Langka Kuningan, Jawa Barat. Program penanaman ini juga merupakan hasil kolaborasi multipihak yang melibatkan UPT KHDTK UNS, Kelompok Studi Biodiversitas FMIPA UNS, Green and Earth Community, Solohabo, Program Magister dan Doktor Ilmu Lingkungan UNS, Foresma, serta Forum Pohon Langka Indonesia (FPLI).
Dalam kegiatan monitoring kali ini, tim melakukan pemeriksaan kondisi kesehatan tanaman, pembersihan gulma di sekitar area tanam, pengecekan ajir dan penanda pohon, serta pengukuran pertumbuhan setiap individu pohon. Data pertumbuhan yang dikumpulkan secara berkala menjadi dasar evaluasi keberhasilan program konservasi sekaligus bahan pembelajaran bagi mahasiswa dan pegiat konservasi yang terlibat.
Pada tahun 2026, FPLI bersama Foresma UNS berkomitmen untuk melakukan perawatan rutin setiap bulan. Pendekatan ini diyakini menjadi salah satu faktor utama keberhasilan konservasi pohon langka, karena tidak hanya berfokus pada kegiatan penanaman, tetapi juga memastikan pohon dapat tumbuh dan berkembang hingga mencapai fase dewasa.
Melalui kegiatan monitoring dan perawatan berkala ini, para pihak berharap praktik pengelolaan yang sama dapat diterapkan di berbagai lokasi penanaman pohon langka di Indonesia. Perawatan yang intensif dan berkelanjutan merupakan kunci keberhasilan program restorasi dan konservasi pohon langka, sehingga upaya penyelamatan keanekaragaman hayati Indonesia dapat memberikan dampak yang nyata dan berjangka panjang bagi generasi mendatang.
FPLI Berikan Materi Pohon Langka dan Monitoring Heritiera percoriacea di Tahura Banten
Pandeglang, 12 Juni 2026 – Forum Pohon Langka Indonesia (FPLI) menghadiri kegiatan Kuliah Lapangan Ekologi yang diselenggarakan oleh mahasiswa Program Studi Biologi Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin (UIN SMH) Banten di Taman Hutan Raya (Tahura) Banten.
Pada kesempatan tersebut, FPLI yang diwakili oleh Mokhamad Nur Zaman, S.Si., M.ling memberikan materi mengenai konservasi pohon langka Indonesia, termasuk pentingnya upaya penyelamatan spesies tumbuhan yang terancam punah, strategi konservasi berbasis masyarakat, serta peran generasi muda dalam menjaga keberlanjutan keanekaragaman hayati Indonesia.
Kegiatan yang diikuti oleh puluhan mahasiswa Biologi UIN SMH Banten ini menjadi sarana pembelajaran langsung di lapangan untuk memahami kondisi ekosistem hutan, fungsi ekologis pohon, serta berbagai tantangan yang dihadapi dalam konservasi tumbuhan langka di Indonesia.
Selain sesi materi, tim FPLI juga melakukan monitoring terhadap 15 individu pohon langka endemik Jawa bagian barat, Heritiera percoriacea yang telah ditanam bersama PLN IP UBP Banten 2 Labuan pada Mei 2026. Monitoring dilakukan untuk mengevaluasi kondisi pertumbuhan awal tanaman, tingkat kelangsungan hidup (survival rate), serta mengidentifikasi kebutuhan pemeliharaan lanjutan guna mendukung keberhasilan restorasi habitat.
Hasil pemantauan menunjukkan bahwa sebagian besar tanaman berada dalam kondisi baik dan masih beradaptasi dengan lingkungan tanamnya. Monitoring berkala akan terus dilakukan sebagai bagian dari komitmen FPLI dan PLN dalam mendukung pelestarian spesies pohon langka serta pemulihan ekosistem hutan di wilayah Banten.
Melalui kolaborasi antara lembaga konservasi, sektor swasta, dan perguruan tinggi, diharapkan upaya penyelamatan pohon-pohon langka Indonesia dapat semakin diperkuat sekaligus meningkatkan kesadaran generasi muda terhadap pentingnya menjaga kekayaan flora nusantara.
FPLI dan PLN Indonesia Power Tanam Pohon Langka di Tahura Banten, Perkuat Upaya Pelestarian Keanekaragaman Hayati
Pandeglang, Banten – 22 April 2026
Dalam rangka memperingati Hari Bumi Tahun 2026, Forum Pohon Langka Indonesia (FPLI) bersama PLN Indonesia Power UBP Banten 2 Labuan melaksanakan kegiatan penanaman pohon langka di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Banten, Desa Sukarame, Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Kegiatan ini menjadi wujud nyata kolaborasi multipihak dalam mendukung konservasi keanekaragaman hayati dan rehabilitasi ekosistem di kawasan hutan konservasi. Tahura Banten sendiri merupakan kawasan konservasi penting yang berfungsi sebagai sarana perlindungan biodiversitas, pendidikan, penelitian, dan wisata alam.
Pada kegiatan tersebut, FPLI memberikan dukungan berupa 15 bibit pohon langka Ajwa (Heritiera percoriacea), salah satu jenis pohon endemik yang memiliki nilai konservasi tinggi dan keberadaannya semakin jarang ditemukan di habitat alaminya. Penanaman pohon langka ini menjadi langkah strategis untuk memperkaya koleksi spesies konservasi di Tahura Banten sekaligus mendukung upaya pelestarian plasma nutfah Indonesia.
Selain penanaman pohon langka dari FPLI, PLN Indonesia Power UBP Banten 2 Labuan juga melakukan penanaman 1.000 pohon berbagai jenis sebagai bagian dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) perusahaan. Penanaman tersebut diharapkan dapat meningkatkan tutupan vegetasi, memperbaiki kualitas lingkungan, serta memperkuat fungsi ekologis kawasan Tahura Banten sebagai habitat berbagai flora dan fauna.
Ketua FPLI menyampaikan bahwa kolaborasi dengan sektor swasta menjadi salah satu kunci keberhasilan konservasi pohon langka di Indonesia. Melalui dukungan berbagai pihak, upaya penyelamatan spesies pohon langka tidak hanya dilakukan melalui perlindungan habitat, tetapi juga melalui pengayaan populasi dan restorasi ekosistem.
“Penanaman Heritiera percoriacea di Tahura Banten merupakan bagian dari komitmen bersama untuk menjaga keberlanjutan sumber daya hayati Indonesia. Kami berharap pohon-pohon yang ditanam hari ini dapat tumbuh dengan baik dan menjadi sumber benih bagi upaya konservasi di masa mendatang,” ujar perwakilan FPLI.
Sementara itu, PLN Indonesia Power UBP Banten 2 Labuan menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung pembangunan berkelanjutan dan pelestarian lingkungan. Momentum Hari Bumi menjadi pengingat bahwa kolaborasi antara dunia usaha, lembaga konservasi, pemerintah, dan masyarakat sangat penting dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan degradasi lingkungan.
Kawasan Tahura Banten yang berada di Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang, merupakan salah satu kawasan konservasi penting di Provinsi Banten yang memiliki keanekaragaman hayati tinggi serta berperan sebagai ruang edukasi, penelitian, dan perlindungan ekosistem hutan dataran rendah.
Melalui kegiatan penanaman ini, FPLI dan PLN Indonesia Power berharap dapat menginspirasi lebih banyak pihak untuk terlibat dalam gerakan pelestarian pohon langka dan restorasi ekosistem. Setiap pohon yang ditanam hari ini menjadi investasi jangka panjang bagi keberlanjutan lingkungan, keseimbangan ekosistem, dan warisan keanekaragaman hayati bagi generasi mendatang.
Petualangan Konservasi #4: Belajar, Menjelajah, dan Menanam Harapan di Gunung Tilu
Tidak semua perjalanan meninggalkan jejak.
Namun di Petualangan Konservasi #4, setiap langkah justru menjadi bagian dari upaya menjaga masa depan.
Bertempat di Persemaian Pohon Langka Saung Kehati Gunung Tilu, Kuningan – Jawa Barat, kegiatan ini menghadirkan pengalaman yang tidak hanya mendekatkan peserta dengan alam, tetapi juga mempertemukan mereka dengan makna konservasi yang sesungguhnya. Inilah salah satu bentuk FPLI melakukan Konservasi Pohon Langka di Indonesia.
Belajar dari Awal: Persemaian Pohon Langka
Perjalanan dimulai dari tempat yang sering luput dari perhatian—persemaian.
Di sinilah peserta belajar bahwa menjaga pohon langka tidak dimulai dari hutan, tetapi dari benih kecil yang dirawat dengan penuh kesabaran. Peserta dikenalkan pada berbagai jenis pohon langka Indonesia, memahami proses pembibitan, hingga melihat langsung bagaimana upaya konservasi dilakukan dari tahap paling awal.
Menyusuri Hutan, Memahami Kehidupan
Memasuki kawasan hutan Gunung Tilu, peserta diajak melakukan jungle trekking menyusuri jalur alami. Suara dedaunan, udara segar, dan lanskap yang masih terjaga menjadi pengalaman yang tidak tergantikan.
Kegiatan dilanjutkan dengan bird watching, di mana peserta mengamati burung di habitat aslinya. Momen sederhana ini menjadi pengingat bahwa hutan yang sehat adalah rumah bagi begitu banyak kehidupan.
Kehidupan yang Terungkap di Malam Hari
Saat malam tiba, petualangan justru berlanjut. Dalam kegiatan night herping, peserta diajak menjelajahi hutan untuk menemukan amfibi dan reptil yang aktif di malam hari.
Dengan ditemani pemandu, peserta belajar bahwa ekosistem hutan tetap hidup bahkan saat gelap. Pengalaman ini membuka perspektif baru tentang pentingnya menjaga seluruh komponen ekosistem, termasuk yang sering tidak terlihat.
Kembali ke Hal Sederhana
Malam ditutup dengan api unggun dan kemah bersama. Di tengah keterbatasan sinyal dan jauh dari hiruk-pikuk kota, peserta berbagi cerita, tawa, dan refleksi.
Di sinilah banyak yang menyadari bahwa kedekatan dengan alam juga berarti kembali ke hal-hal sederhana yang selama ini terlupakan.
Menyatu dengan Alam
Keesokan harinya, peserta melanjutkan kegiatan dengan susur sungai dan mandi di air terjun. Air yang jernih dan suasana alami memberikan pengalaman yang menyegarkan, sekaligus memperkuat koneksi dengan alam.
Tak hanya itu, peserta juga diajak memanen timun langsung dari kebun. Aktivitas sederhana ini menghadirkan pengalaman unik—merasakan hasil alam secara langsung, segar, dan tanpa perantara.
Menanam Lebih dari Sekadar Pohon
Puncak dari seluruh rangkaian kegiatan adalah penanaman pohon langka.
Di momen ini, setiap peserta tidak hanya menanam pohon, tetapi juga menanam harapan. Pohon yang ditanam hari ini diharapkan tumbuh dan menjadi bagian dari upaya jangka panjang dalam menyelamatkan spesies langka Indonesia.
Lebih dari Sekadar Perjalanan
Petualangan Konservasi #4 bukan hanya tentang menjelajah alam, tetapi tentang memahami, merasakan, dan berkontribusi.
Bagi para peserta, ini bukan sekadar perjalanan singkat. Ini adalah pengalaman yang membekas—yang mengubah cara pandang, dan mungkin juga cara hidup.
Dan bagi FPLI, kegiatan ini adalah bagian dari langkah kecil yang terus dilakukan untuk menjaga masa depan hutan Indonesia.
🌿 Sampai Jumpa di Petualangan Berikutnya
Beberapa orang telah merasakan pengalaman ini.
Dan sebagian besar dari mereka ingin kembali.
Jika kamu belum sempat ikut, mungkin ini saatnya menunggu—
atau bersiap—untuk Petualangan Konservasi berikutnya.
Tanam Pohon Langka Serentak: Gerakan Nasional yang Kian Tumbuh dan Berdampak
Forum Pohon Langka Indonesia (FPLI) kembali menunjukkan komitmennya dalam menjaga masa depan keanekaragaman hayati melalui kegiatan Tanam Pohon Langka Serentak. Program ini menjadi salah satu gerakan kolaboratif berskala nasional yang terus berkembang pesat dari tahun ke tahun. Berbagai cara dilakuakn untuk melakukan Konservasi Pohon Langka di Indonesia.
Pada tahun 2025, capaian program ini meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Tidak hanya dari sisi jumlah pohon yang ditanam, tetapi juga dari keragaman jenis, jangkauan wilayah, hingga kekuatan kolaborasi yang terbangun.
📊 Lonjakan Capaian yang Signifikan
Pada tahun 2024, kegiatan ini telah berhasil menanam:
- 44 jenis pohon langka
- 37 jenis pohon terancam punah
- 25 jenis pohon endemik
- Dilaksanakan di 11 provinsi
- Melibatkan 22 lembaga kolaborator
- Dengan 21 titik tanam
- Total 323 individu pohon
Satu tahun kemudian, pada 2025, angka tersebut meningkat drastis:
- 86 jenis pohon langka
- 65 jenis pohon terancam punah
- 30 jenis pohon endemik
- Menjangkau 21 provinsi
- Melibatkan 68 lembaga kolaborator
- Dengan 55 titik tanam
- Total 1.543 individu pohon berhasil ditanam
Peningkatan ini mencerminkan bahwa gerakan ini tidak hanya berlanjut, tetapi tumbuh menjadi aksi kolektif yang semakin luas dan terorganisir.
Fokus pada Spesies Terancam
Salah satu kekuatan utama dari program ini adalah fokusnya pada spesies dengan tingkat ancaman tinggi. Pada tahun 2025, jumlah jenis pohon dalam kategori:
- Critically Endangered (CR) meningkat dari 8 menjadi 18 jenis
- Endangered (EN) meningkat dari 8 menjadi 24 jenis
- Vulnerable (VU) meningkat dari 17 menjadi 22 jenis
Bahkan, upaya konservasi juga mulai menyasar jenis dengan status Extinct in the Wild (EW), sebuah langkah penting dalam mendorong pemulihan spesies yang telah hilang dari habitat alaminya.
Kolaborasi sebagai Kunci
Keberhasilan ini tidak lepas dari kolaborasi multipihak yang terus diperkuat. Dari 22 lembaga pada tahun 2024, meningkat menjadi 68 lembaga di tahun 2025. Kolaborasi ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari komunitas, akademisi, pemerintah, hingga organisasi non-profit di berbagai daerah.
Menuju Dampak Jangka Panjang
Tanam Pohon Langka Serentak bukan sekadar kegiatan penanaman, tetapi bagian dari upaya jangka panjang untuk:
- Menyelamatkan spesies pohon langka Indonesia
- Memulihkan ekosistem yang terdegradasi
- Meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya konservasi
Dengan pertumbuhan yang signifikan ini, FPLI optimis bahwa gerakan ini akan terus berkembang dan menjadi salah satu pilar penting dalam konservasi pohon langka di Indonesia.
Dari 84 Pendaftar, Ini 5 Tim Pemenang Small Grant 2026 FPLI
Forum Pohon Langka Indonesia (FPLI) secara resmi mengumumkan penerima program Small Grant 2026, sebuah inisiatif yang bertujuan untuk mendukung aksi nyata konservasi pohon langka di berbagai wilayah Indonesia. Program ini mendapatkan antusiasme yang sangat tinggi, dengan total 85 tim pendaftar yang berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari mahasiswa, komunitas, hingga organisasi masyarakat sipil.
Setelah melalui proses seleksi yang ketat dan komprehensif—meliputi evaluasi administrasi, penilaian substansi proposal, serta kelayakan teknis dan potensi dampak—terpilih sejumlah tim terbaik yang dinilai memiliki program unggulan dalam upaya pelestarian pohon langka di Indonesia.
Beberapa tim penerima Small Grant 2026 di antaranya:
- Rumah Air Mandiri dengan program konservasi Wangi Cendana Timur
- Konservasi Lingkungan Hidup Gayo (KLH Gayo-GEC) dengan fokus pada perlindungan dan pemulihan populasi Magnolia banghamii secara berkelanjutan
- Mapala Gempa Universitas Pendidikan Muhammadiyah (UNIMUDA) Sorong dengan kegiatan rediscovery dan karakterisasi ekologi Terminalia avicapitis di Papua Barat
- Native Celebes Trees dengan program konservasi Gluta celebica Kosterm., spesies pohon endemik terancam di tanah ultramafik Sulawesi
- Yayasan Jejak Anoa Indonesia yang melakukan pemulihan awal Glochidion butonicum melalui verifikasi populasi, perlindungan mikrohabitat, dan perbanyakan terbatas di TWA Tirta Rimba, Baubau
Program Small Grant 2026 tidak hanya berfokus pada kegiatan penanaman, tetapi juga mencakup aksi konservasi lebih luas meliputi eksplorasi, penelitian, perlindungan habitat, hingga pengembangan persemaian dan perbanyakan jenis pohon langka. Hal ini sejalan dengan komitmen FPLI dalam mendorong pendekatan konservasi berbasis ilmiah dan kolaboratif.
FPLI menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh tim yang telah berpartisipasi dalam program ini. Meskipun tidak semua tim dapat terpilih, kontribusi ide dan semangat yang ditunjukkan menjadi bagian penting dalam gerakan bersama menjaga keanekaragaman hayati Indonesia.
Melalui dukungan Small Grant 2026, diharapkan para penerima dapat mengimplementasikan programnya secara optimal dan memberikan dampak nyata bagi upaya konservasi pohon langka di Indonesia. FPLI juga berharap kolaborasi ini dapat terus berkembang dan menjadi bagian dari gerakan nasional dalam menyelamatkan spesies pohon langka yang semakin terancam.
Daftar tim juga dapat dilihat pada tautan berikut:
https://www.instagram.com/p/DWG5QMNkVFo/?img_index=1
84 Tim dari 24 Provinsi di Indonesia Mendaftar FPLI Small Grant Programme 2026
FPLI Small Grant Programme 2026 secara resmi telah menutup masa pendaftaran. Program ini terbuka bagi seluruh Warga Negara Indonesia dengan mengusung topik utama: Aksi konservasi pohon langka, endemik, dan/atau terancam punah.
Tahun ini, sebanyak 84 tim telah mendaftarkan proposal terbaik mereka untuk mendukung upaya pelestarian spesies pohon langka di Indonesia. Berikut adalah daftar propinsi dan jumlah tim yang mendaftar.
| Provinsi | Jumlah Tim |
| Aceh | 7 |
| Banten | 1 |
| DI Yogyakarta | 2 |
| Jambi | 2 |
| Jawa Barat | 15 |
| Jawa Tengah | 6 |
| Jawa Timur | 13 |
| Kalimantan Barat | 4 |
| Kalimantan Selatan | 3 |
| Kalimantan Tengah | 1 |
| Kalimantan Timur | 1 |
| Kalimantan Utara | 1 |
| Kepulauan Riau | 1 |
| Lampung | 1 |
| Nusa Tenggara Barat (NTB) | 3 |
| Nusa Tenggara Timur (NTT) | 8 |
| Papua Barat | 1 |
| Papua Barat Daya | 1 |
| Riau | 2 |
| Sulawesi Barat | 1 |
| Sulawesi Selatan | 2 |
| Sulawesi Tengah | 4 |
| Sumatera Selatan | 2 |
| Sumatera Utara | 1 |
Skema Pendanaan
Melalui program ini, FPLI akan mendanai 3–5 tim terbaik dengan dukungan dana sebesar Rp35.000.000 – Rp45.000.000 per tim.
Pendanaan ini dirancang sebagai funding untuk mendukung pegiat konservasi tahap awal agar dapat menjalankan ide, riset, aksi lapangan, serta model aksi konservasi berbasis masyarakat secara lebih terstruktur dan berdampak.
Mendorong Aksi Nyata Konservasi Pohon Langka
FPLI Small Grant Programme hadir sebagai ruang tumbuh bagi generasi baru pegiat konservasi. Banyak inisiatif lokal memiliki gagasan kuat dan relevan, namun terkendala akses pendanaan. Program ini menjadi jembatan untuk mengubah ide menjadi aksi nyata di lapangan.
Dengan meningkatnya ancaman terhadap pohon-pohon langka, endemik, dan terancam punah, kolaborasi dan inovasi menjadi kunci. FPLI berkomitmen untuk terus mendorong gerakan konservasi berbasis komunitas yang berkelanjutan dan berdampak luas.
Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh tim yang telah mendaftar dan berpartisipasi.
Sampai jumpa pada pengumuman 20 Maret 2026.
Perayaan Hari Pohon Dunia FPLI selenggarakan Seminar Nasional dan Tanam Pohon Langka Serentak se Indonesia
Setiap tanggal 21 November, dunia memperingati Hari Pohon Sedunia (World Tree Day) sebagai momentum refleksi akan pentingnya peran pohon bagi kehidupan di bumi. Pohon tidak hanya berfungsi sebagai penyangga kehidupan dan penyerap karbon, tetapi juga menjadi simbol keseimbangan ekosistem dan keberlanjutan lingkungan. Di tengah ancaman perubahan iklim, deforestasi, dan menurunnya keanekaragaman hayati, perayaan Hari Pohon menjadi pengingat bagi kita semua untuk memperkuat komitmen terhadap pelestarian alam.
Selain itu, Indonesia juga memperingati Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI) setiap tanggal 28 November, sebagai bentuk ajakan nasional untuk mengembalikan kesadaran kolektif masyarakat dalam menjaga dan memulihkan tutupan hijau di berbagai wilayah. Kedua momentum penting ini menjadi landasan kuat dalam membangun gerakan bersama untuk menanam, merawat, dan melestarikan pohon sebagai warisan kehidupan.
Sebagai tindak lanjut dari semangat tersebut, pada tahun 2024 telah terselenggara Gerakan Tanam Pohon Langka Serentak di 21 titik lokasi di seluruh Indonesia, yang melibatkan berbagai kalangan – mulai dari pemerintah daerah, perguruan tinggi, komunitas, hingga masyarakat umum. Keberhasilan gerakan tersebut menunjukkan bahwa kolaborasi lintas sektor dapat menjadi kekuatan besar dalam upaya konservasi pohon langka dan peningkatan kesadaran lingkungan.
Memasuki tahun 2025, semangat tersebut akan kembali dilanjutkan melalui Rangkaian Perayaan Hari Pohon 2025, dengan acara utama berupa Seminar Nasional Pohon Langka. Seminar ini diharapkan menjadi ruang temu bagi para peneliti, akademisi, praktisi, dan pemerhati lingkungan untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, dan strategi pelestarian spesies pohon langka di Indonesia.
Sebagai bentuk aksi nyata, kegiatan ini juga akan dirangkai dengan Gerakan Tanam Pohon Langka Serentak 2025, yang melibatkan kolaborator di berbagai daerah. Penanaman pohon langka memiliki makna yang sangat penting, karena bukan hanya sebagai simbol kepedulian lingkungan, tetapi juga sebagai wujud nyata upaya pelestarian terhadap spesies pohon yang terancam punah. Melalui kegiatan ini, masyarakat diperkenalkan secara langsung pada bentuk dan keberadaan pohon-pohon langka Indonesia yang selama ini hanya dikenal dari hutan atau literatur ilmiah.
Selain menjadi sarana edukasi ekologis, penanaman pohon langka juga merupakan langkah strategis untuk mengurangi praktik penanaman pohon dengan jenis-jenis asing yang tidak sesuai dengan ekosistem lokal. Dengan menanam pohon asli Indonesia, kegiatan ini turut memperkuat identitas keanekaragaman hayati nasional sekaligus mendukung pemulihan ekosistem hutan yang berkelanjutan.
Melalui penyelenggaraan rangkaian kegiatan Hari Pohon Sedunia dan Hari Menanam Pohon Indonesia Tahun 2025 ini, diharapkan kesadaran publik akan pentingnya menjaga pohon dan habitatnya semakin meningkat, serta melahirkan kolaborasi berkelanjutan untuk menjaga kekayaan hayati bangsa Indonesia.
Webinar Nasional: Restorasi Ekosistem untuk Masa Depan Berkelanjutan: Tantangan dan Solusi
Bogor, 24 Juli 2025 – Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun 2025, Pohon Langka Indonesia bersama Perhimpunan Taxonomy Indonesia (PTI) dan Invertto Earth menyelenggarakan Webinar Nasional bertema “Restorasi Ekosistem untuk Masa Depan Berkelanjutan: Tantangan dan Solusi.”
Acara yang dilaksanakan pada Kamis, 24 Juli 2025 pukul 09.00–12.00 WIB melalui platform Zoom Meeting ini menghadirkan para pakar lintas bidang untuk membahas strategi, tantangan, dan solusi dalam upaya restorasi ekosistem demi keberlanjutan lingkungan hidup di Indonesia.
Pembicara dan Narasumber
- Pembawa Acara: Fauziyah Shabirah (Garisina UNJ/Regidat Pohon Langka Bangka)
- Pembukaan: Dr. Ir. Wiratno, M.Sc. (Penasihat PTI)
- Narasumber Utama:
- Prof. Dr. Tukirin Partomihardjo (Ketua PTI/Pakar Biologi Botani)
- Dr. Dewi Gunawati, S.H., M.Hum. (Dosen Hukum Lingkungan UNS)
- Dr. Nurpana Sulaksono, S.Hut., M.T. (Balai TN Gunung Merbabu)
- Lelyana Midora, S.Hut., M.Sc. (Invertto Earth Coordinator)
Tujuan Kegiatan
Kegiatan ini bertujuan untuk:
- Memberikan pemahaman tentang pentingnya restorasi ekosistem sebagai upaya menjaga keberlanjutan lingkungan.
- Membahas tantangan aktual dalam implementasi restorasi, baik dari sisi ekologi, hukum, maupun kebijakan.
- Menawarkan solusi dan strategi kolaboratif untuk mendukung agenda restorasi di Indonesia.
Akses dan Partisipasi
Webinar ini gratis (Free Entry) dan terbuka bagi masyarakat luas, akademisi, mahasiswa, maupun pegiat lingkungan. Pendaftaran dapat dilakukan melalui tautan QR code yang tersedia di poster acara.
Harapan Penyelenggara
Melalui kegiatan ini, penyelenggara berharap dapat memperkuat kesadaran publik, membangun jejaring antar pemangku kepentingan, serta mendorong langkah nyata dalam mendukung agenda restorasi ekosistem di Indonesia, khususnya dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan degradasi lingkungan.
FPLI Hadiri Workshop Nasional Penyusunan NSPK Pemulihan Ekosistem di Kawasan Konservasi
Forum Pohon Langka Indonesia (FPLI) turut berpartisipasi dalam Workshop Nasional Pengembangan Peta Indikatif Arahan Pemulihan Ekosistem yang Terintegrasi serta Penyusunan Indikator Penilaian Keberhasilan Pemulihan Ekosistem, yang diselenggarakan oleh Direktorat Perencanaan Kawasan Konservasi, Ekosistem Esensial dan Pemulihan Ekosistem (PEBAP) pada tanggal 27–28 Mei 2025.
Workshop ini merupakan bagian dari proses penyusunan Norma, Standar, Prosedur, dan Kriteria (NSPK) Pemulihan Ekosistem, khususnya di Kawasan Suaka Alam (KSA), Kawasan Pelestarian Alam (KPA), dan Taman Buru (TB). Kegiatan ini bertujuan untuk mengembangkan acuan teknis dan peta arah yang terintegrasi bagi pelaksanaan pemulihan ekosistem di kawasan-kawasan konservasi di seluruh Indonesia.
Acara dibuka secara resmi oleh Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), yang dalam arahannya menekankan pentingnya pemulihan ekosistem sebagai bagian dari strategi jangka panjang dalam menghadapi krisis keanekaragaman hayati dan perubahan iklim.
Dalam workshop ini, FPLI berkontribusi memberikan masukan berdasarkan pengalaman organisasi dalam konservasi dan pemulihan pohon-pohon langka serta ekosistem tempat mereka tumbuh, termasuk kawasan endemik dan terdegradasi. FPLI juga menyoroti pentingnya memasukkan data spesifik mengenai spesies langka dan endemik sebagai salah satu parameter dalam penyusunan peta indikatif maupun indikator keberhasilan pemulihan ekosistem.
“Pemulihan ekosistem harus dilandaskan pada data ilmiah dan pemahaman ekologi spesifik, terutama untuk spesies langka dan endemik yang selama ini belum banyak tersentuh dalam skema-skema restorasi skala luas,” ujar Prof. Tukirin Partomihardjo perwakilan FPLI dalam sesi diskusi kelompok.
FPLI menyambut baik langkah Direktorat PEBAP dalam menyusun NSPK ini dan berharap hasilnya akan menjadi pedoman yang kuat dan inklusif untuk memulihkan ekosistem secara efektif dan berkelanjutan, serta memperkuat kolaborasi antar pemangku kepentingan.