Berita

FPLI Bersama Mitra di Papua Barat Lanjutkan Program Konservasi Pohon Langka Endemik Anggi

Forum Pohon Langka Indonesia (FPLI) bersama Fakultas Kehutanan Universitas Papua (FAHUTAN UNIPA), Balai Besar KSDA Papua Barat, dan Cabang Dinas Kehutanan (CDK) Pegunungan Arfak kembali melaksanakan kegiatan lanjutan dari Program Konservasi Pohon Langka Endemik Anggi, yang telah berjalan sejak Oktober 2024.

Kegiatan terbaru berlangsung di Kampung Kali Merah, sebuah kampung yang terletak dekat Danau Anggi Gida, wilayah yang dikenal sebagai habitat alami pohon-pohon langka endemik Pegunungan Arfak. Dalam kegiatan ini, tim gabungan menyelenggarakan sosialisasi mengenai empat jenis pohon endemik yang telah teridentifikasi di kawasan tersebut.

Selain sosialisasi, dilakukan pula pembangunan persemaian pohon langka yang bertujuan menjadi pusat pembibitan dan pelestarian spesies endemik tersebut. Persemaian ini akan menjadi rumah konservasi bagi pembibitan pohon-pohon langka sebelum nantinya ditanam kembali ke habitat aslinya (in situ) maupun ke lokasi lain untuk tujuan pendidikan dan pelestarian (ex situ).

Program konservasi ini telah mengidentifikasi empat jenis pohon endemik di sekitar kawasan Anggi, hasil dari survei intensif sejak Oktober 2024. Saat ini, data dan hasil identifikasi sedang dalam proses publikasi ilmiah, karena penemuan ini dinilai memiliki arti penting bagi pengetahuan biodiversitas Indonesia, khususnya flora langka Papua Barat.

Bibit hasil persemaian direncanakan akan ditanam pada tahun 2026 dan 2027, baik di kawasan habitat aslinya maupun di berbagai instansi pemerintahan dan pendidikan di Kabupaten Pegunungan Arfak, guna meningkatkan kesadaran dan partisipasi lokal dalam upaya konservasi.

Seluruh rangkaian kegiatan ini didukung pendanaan dari Franklinia Foundation, sebuah lembaga konservasi internasional yang mendanai upaya penyelamatan spesies pohon terancam punah di seluruh dunia.

Program ini mencerminkan semangat kolaboratif antara lembaga riset, pemerintahan, komunitas lokal, dan organisasi konservasi untuk melestarikan keunikan hayati Indonesia, sekaligus mendukung pelestarian budaya dan pengetahuan lokal yang terkait erat dengan ekosistem hutan di Pegunungan Arfak

07 Februari 2025
#konservasi

PT Yamaha Indonesia Manufacturing Lestarikan Pohon Langka di Taman Kehati Kiara Payung Sumedang

07 Februari 2025
#konservasi #pohonLangka

Dalam rangka memperingati memperingati hari pohon sedunia (21 November) maupun hari menanam pohon Indonesia (28 November), PT Yamaha Indonesia Manufacturing, Dinas Lingkungan Hidup Jawa Barat bersama Forum Pohon Langka Indonesia melaksanakan kegiatan penanaman pohon langka di Taman Kehati Kiyara Payung, Sumedang Jawa Barat.

Aksi ini menjadi inisiatif untuk menyelaraskan peringatan Hari hari pohon dunia 21 November 2024 & hari menanam pohon Indonesia 28 November 2024 dengan desain kegiatan secara partisipatif. Kegiatan ini juga sebagai wujud nyata kontribusi perusahaan dalam mendukung konservasi pohon langka dan memperbanyak koleksi di taman kehati yang berguna untuk penyerapan emisi karbon.

Pohon langka Indonesia, semakin hari semakin besar tingkat ancamanya. Berbagai aktifitas yang menunjang hilangnya kekayaan jenis asli Indoeesia semakin nyata adanya. Apabila tidak segera dilakukan aksi konservasi nyata, maka dalam waktu beberapa tahun ke depan jenis-jenis pohon di Indonesia akan semakin menurun.

Saat ini Lembaga Konservasi dunia melalui IUCN mengeluarkan lis daftar merah, dimana ada 1405 jenis tumbuhan di Indonesia masuk kategori terancam punah (Vulnerable/Rentan, Endangered/Genting, dan Critically endangered/kritis). Data tumbuhan Indonesia yang sudah di lakukan penilaian adalah sebanyak 6549 dari total sekitar 31.000 tumbuhan. Dari kategorisasi tersebut kelompok pohon adalah yang paling banyak terancam punah, karena memang menjadi target utama penebangan atau paling cepat rusak ketika terdapat konversi lahan ataupun kerusakan hutan.

Melalui kegiatan ini, Forum Pohon langka Indonesa menyelamatkan 5 jenis pohon langka yaitu

Dehaasia pugerensis Koord. & Valeton,

jenis pohon langka anggota suku Lauraceae, merupakan jenis endemic atau hanya tumbuh secara alami di jember, Jawa Timur. Saat ini masuk kategori Critically Endangeraded (CR) B1ab(i,ii,iii,iv,v); C2a(i), masuk kategori kritis. sudah dilakukan asesmen pada IUCN Red List pada 2020 dan dipublikasikan pada tahun 2022.

Actinodaphne quercina Blume

Jenis pohon langka anggota suku Lauraceae, merupakan jenis endemic atau hanya tumbuh secara alami di pulau Jawa bagian Barat. Saat ini masuk kategori Critically Endangeraded (CR) B1ab(i,ii,iii,iv)+2ab(i,ii,iii,iv)., masuk kategori kritis. sudah dilakukan asesmen pada IUCN Red List pada 2019 dan dipublikasikan pada tahun 2020

Canarium kipella (Blume) Miq.

Jenis pohon langka anggota suku Burseraceae, merupakan jenis endemic atau hanya tumbuh secara alami di ada di 2 lokasi yaitu di Gunung Salak dan dekat Pelabuhan Ratu di Jawa Barat, Indonesia. Saat ini masuk kategori Endangered (EN) A2c; B1ab(i,ii)+2ab(i,ii), masuk kategori genting. Canarium kipella sudah dilakukan asesmen pada IUCN Red List pada 2019 dan dipublikasikan pada tahun 2020.

Lithocarpus kostermansii Soepadmo

Jenis pohon langka anggota suku Fagaceae, merupakan jenis endemic atau hanya tumbuh secara alami di ada di Jawa bagian barat. Saat ini masuk kategori Endangered (EN) A1c, B1+2c masuk kategori genting. Sudah dilakukan asesmen pada IUCN Red List pada 1998 dan dipublikasikan pada tahun 1998

Heritiera percoriacea Kosterm.


Jenis pohon langka anggota suku Malvaceae, merupakan jenis endemic atau hanya tumbuh secara alami di ada di Jawa bagian barat. Saat ini masuk kategori Endangered (EN) B1ab(i,ii,iii,iv)+2ab(i,ii,iii,iv) masuk kategori genting. Sudah dilakukan asesmen pada IUCN Red List pada 2021 dan dipublikasikan pada tahun 2024.

Fakultas Biologi Unsoed dan FPLI Tanam Pohon Langka Endemik Nusakambangan sebagai Aksi Konservasi Berkelanjutan

10 Januari 2025
#konservasi #pohonLangka

Komitmen terhadap pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia kembali ditunjukkan oleh Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) melalui kegiatan konservasi yang digelar di halaman kampus Unsoed. Kegiatan ini merupakan bagian dari program jangka panjang kerja sama antara Unsoed dan Forum Pohon Langka Indonesia (FPLI).

Acara diawali dengan seminar bertema "Ekspedisi Sisik Naga: Mengungkap Keanekaragaman Hayati Lereng Gunung Slamet", yang menghadirkan hasil eksplorasi ilmiah dan potensi konservasi di kawasan pegunungan tertinggi di Jawa Tengah tersebut.

Usai seminar, kegiatan dilanjutkan dengan penanaman pohon langka endemik Pulau Nusakambangan, Dipterocarpus littoralis, sebagai simbol dimulainya program konservasi ex situ di lingkungan kampus. Penanaman ini merupakan langkah strategis untuk menyelamatkan spesies pohon yang tergolong langka dan terancam punah.

Kegiatan penanaman dihadiri langsung oleh Rektor Unsoed, Dekan Fakultas Biologi Unsoed, serta pimpinan FPLI, yaitu Prof. Dr. Tukirin Partomihardjo (Ketua FPLI) dan Arief Hamidi (Sekretaris FPLI).

“Kolaborasi ini bukan sekadar penanaman, tetapi bagian dari gerakan ilmiah dan edukatif dalam menjaga pohon-pohon langka Indonesia agar tidak hilang dari ingatan dan lanskap kita,” ungkap Prof. Tukirin.

Fakultas Biologi Unsoed menyatakan bahwa kegiatan ini akan menjadi awal dari serangkaian program konservasi pohon langka di kampus, baik melalui penanaman, pengembangan kebun koleksi, maupun riset mahasiswa dan dosen.

“Kami berharap konservasi Dipterocarpus littoralis ini menjadi pijakan awal, dan ke depan akan semakin banyak spesies langka yang dapat kami pelihara bersama FPLI dan civitas akademika,” ujar Dekan Fakultas Biologi Unsoed dalam sambutannya.

Dengan pendekatan berbasis ilmu pengetahuan dan aksi nyata, kerja sama ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam pelestarian pohon langka Indonesia, sekaligus menjadi model konservasi kampus yang dapat direplikasi di tempat lain.

Tilu Daun, Pemuda Purwosari yang Menjadi Garda Depan Konservasi Pohon Langka di Gunung Tilu

10 Januari 2025
#konservasi #forumPohonLangkaIndonesia

Komitmen pelestarian pohon langka semakin kuat berakar di tingkat desa. Kelompok pemuda Tilu Daun dari Desa Purwosari, Kuningan, membuktikan bahwa inisiatif lokal dapat menjadi ujung tombak konservasi keanekaragaman hayati, khususnya pohon-pohon langka dan terancam punah yang tumbuh di kawasan Gunung Tilu.

Program konservasi ini bermula dari pertemuan awal pada Januari 2024, dalam sebuah kegiatan konservasi yang diselenggarakan di Universitas Kuningan (UNIKU) dan difasilitasi oleh Forum Pohon Langka Indonesia (FPLI). Sejak itu, kerja sama dan semangat pelestarian terus berkembang.

Langkah Awal: Monitoring dan Pemetaan

Tahun 2024 menjadi titik awal program dengan kegiatan monitoring dan pencatatan jenis serta titik sebaran pohon langka di Gunung Tilu. Dari hasil pencatatan tersebut, ditentukan pohon-pohon induk potensial untuk dikoleksi bijinya.

Persemaian Pohon Langka: 10 x 8 Meter Harapan Masa Depan

Sebagai tindak lanjut, kelompok Tilu Daun membangun persemaian pohon langka berukuran 10 x 8 meter yang berlokasi di dekat Saung Kehati, sebuah ruang edukasi lingkungan di desa tersebut. Hingga saat ini, sudah beberapa jenis pohon langka dan terancam punah berhasil disemai, sebagai bagian dari upaya konservasi berbasis masyarakat.

Kontribusi Nyata untuk Konservasi Nasional

Puncaknya, pada November 2024, persemaian Tilu Daun dipercaya menjadi salah satu penyedia bibit pohon langka dalam program tanam serentak pohon langka yang digagas oleh FPLI secara nasional. Ini menjadi bukti bahwa inisiatif dari desa bisa memberikan dampak nyata bagi konservasi di tingkat nasional.

“Tilu Daun adalah contoh pemuda desa yang bergerak bukan karena proyek, tetapi karena kesadaran dan cinta terhadap lingkungan tempat mereka tinggal. Kami bangga bisa mendampingi mereka,” ujar perwakilan FPLI.

FPLI berharap, model kolaborasi seperti ini dapat direplikasi di berbagai wilayah lain, dengan pemuda desa sebagai motor penggerak konservasi jangka panjang.

Mahasiswa Fakultas Kehutanan USU bersama FPLI Lakukan Survei Biodiversitas Pulau Mursala

Medan – Survei Biodiversitas pulau Mursala, berhasil mengungkap kekayaan hayati luar biasa yang tersembunyi di hutan pulau Mursala, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.

Penelitian ini berhasil dilaksanakan berkat kerjasama berbagai elemen, seperti Forum Pohon langka Indoenesia dengan Universitas Sumatera Utara dan WhIS. Tujuan utama kegiatan ini adalah mencatat keberadaan jenis-jenis flora dan fauna yang tinggal di pulau kecil yang terletak diantara pulau Sumatera dan pulau Nias itu.

Ekspedisi Pulau Mursala 2018-2024 merupakan salah satu program yang dilakukan untuk mengeksplorasi keanekaragaman hayati di Pulau Mursala. Pulau ini terletak di perairan barat Sumatera dan dikenal memiliki berbagai spesies flora dan fauna yang sangat penting, termasuk pohon langka dan endemik yang perlu dilindungi. Ekspedisi ini bertujuan untuk mengidentifikasi serta mendokumentasikan keanekaragaman hayati yang ada di Pulau Mursala dan sekitarnya.

Sejak dimulainya program ini pada tahun 2018, tim peneliti yang terdiri dari para ahli, mahasiswa, dan aktivis lingkungan telah melakukan perjalanan dan penelitian untuk memahami lebih jauh tentang ekosistem di pulau tersebut. Beberapa temuan penting telah berhasil ditemukan, termasuk spesies baru dan informasi penting terkait konservasi Pulau Mursala.



08 Januari 2025
#Mursala #konservasi

Diseminasi Perjalanan Konservasi Pohon Langka Pulau Mursala

17 Desember 2024
#konservasi #pohonLangka

dilaksanakan di Auditorium Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas SUmatera Utara di kota Medan

Pelatihan How a to be a botanist

02 Desember 2024
#konservasi #pelatihan

Pontianak – Indonesia merupakan negara kepulauan dengan kekayaan flora yang sangat tinggi, mencapai kisaran 31.000 spesies. Hal ini berbanding terbalik dengan jumlah botanis, sebutan orang yang berkecimpung di bidang pendataan hingga kajian-kajian ekologi serta pemanfaatan tumbuhan di Indonesia. Hingga saat ini, peranan botanis masih didominasi oleh kalangan peneliti dari institusi resmi negara dan juga oleh pada akademisi di wilayah kampus.

Berkaca pada perkembangan botani di Indonesia, banyak pionir dalam ilmu botani Indonesia sebenarnya muncul dari kalangan non-botanis. Buku Herbarium Amboinense yang merupakan karya monumental keragaman tumbuhan Indonesia ditulis oleh seorang mantan tentara bernama George E. Rumphius. Buku tentang flora Java, waktu itu merujuk pada wilayah mayoritas Hindia Belanda, dikerjakan oleh seorang dokter. Begitu juga dengan Flora of Java, penulis utamanya adalah seorang guru sekolah dasar di Batavia kala itu. Ini menunjukkan bahwa potensi pengungkapan keragaman tumbuhan di Indonesia dapat dilakukan oleh siapa saja dengan latar belakang yang beragam.

Menjawab kebutuhan tersebut, Forum Pohon Langka Indonesia (FPLI) berkolaborasi dengan Yayasan Tumbuhan Asli Indonesia (YTAN) memfasilitasi generasi muda dari berbagai kalangan yang memiliki keinginan kuat mengasah keilmuan di bidang botani untuk mengikuti kegiatan “How to be a Botanist 2024” selama 1 minggu di Pontianak, Kalimantan Barat. Melalui kegiatan ini, para peserta akan diberikan materi bagaimana menjadi seorang Botanis yang benar dan bermanfaat di masa mendatang.

Pelatihan ini menjadi sangat special, karena dapat menghadirkan secara langsung narasumber yang sudah melalang buana di bidang Botani. Berikut adalah nama-nama narasumber di pelatihan ‘How to be a Botanist 2024”

  1. Prof. Dr. Tukirin Partomihardjo (Ketua FPLI)
  2. Dr. Cam Webb
  3. Agusti Randi (Yayasan Tumbuhan Asli Nusantara & FPLI)
  4. Prima Hutabarat (BRIN)
  5. Mokhamad Nur Zaman (FPLI)
  6. Iyan Robiansyah (BRIN & FPLI)
  7. Wisnu Ardi (BRIN)
  8. Arief Hamidi (FPLI)
  9. Ir. Togar Fernando Manurung, MP (Kehutanan UNTAN)


Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dan pengetahuan para botanis muda menuju ke tingkat professional yang dapat berdayaguna dalam memberikan kontribusi terhadap pengungkapan temuan-temuan baru dari keanekaragaman tumbuhan, peningkatan konservasi tumbuhan dan restorasi, serta memperkaya perkembangan ilmu botani dan ekologi di Indonesia.


Tentang How to be a Botanist 2024

Target peserta kegiatan ini adalah para peminat botani di Indonesia dengan sasaran utama para generasi muda yang masih menempuh pendidikan di Universitas, atau praktisi botani pemula di bawah 25 tahun. Pembukaan sejak tanggal 5 November 2024 dan di tutup 20 November 2024. Untuk program pertama ini, di khususkan bagi calon peserta dari Indonesia Barat (Jawa, Sumatra, Kalimantan). Pendaftar mencapai 259 pendaftar, dan di tetapka sebanyak 13 peserta yang berhak mengikuti pelatihan di Pontianak.

Bentuk kegiatan berupa penyampaian pelatihan secara teori, praktek, dan simulasi dengan melakukan kunjungan ke hutan yang didampingi langsung dari para botanis senior sebagai instrukturnya. Tematik kegiatan adalah tentang Taksonomi, Ekologi, dan Konservasi Tumbuhan.

Pelaksanaan kegiatan pada tanggal 2–7 Desember 2024 yang secara umum dilakukan di Pontianak, Kalimantan Barat, dimana penyampaian materi dan praktek akan difokuskan dilakukan di Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura, dan Arboretum Sylva PC Universitas Tanjungpura. Sedangkan praktik lapangan dilakukan di Rumah Konservasi pelangi selama 2 hari efektif.

Di akhir kegiatan, sebagai tanda cinta kasih terhadap lestarinya jenis-jenis pohon langka, endemik, maupun terancam punah, seluruh peserta, panitia, dan narasumber melakukan penanaman pohon langka, sekaligus sebagai salah satu rangkaian program tanam pohon langka serentak dari Forum Pohon Langka Indonesia.


FPLI Gelar Program Tanam Pohon Langka Serentak, Perkuat Konservasi Pohon Langka di Momen Hari Pohon Dunia dan Hari Menanam Pohon Indonesia

20 November 2024
#konservasi #forumPohonLangkaIndonesia

Sebagai langkah nyata dalam upaya pelestarian spesies pohon langka, endemik, dan terancam punah di Indonesia, Forum Pelestari Lingkungan Indonesia (FPLI) meluncurkan program unggulan nasional “Tanam Pohon Langka Serentak” pada bulan November 2024. Program ini dirancang untuk bertepatan dengan peringatan Hari Pohon Dunia (21 November) dan Hari Menanam Pohon Indonesia (28 November), sebagai ajakan kepada masyarakat agar kegiatan tanam pohon selaras dengan agenda konservasi hayati nasional.

Tujuan utama dari program ini adalah untuk mengubah paradigma penanaman pohon—tidak sekadar menanam sembarang pohon, tetapi memilih jenis pohon asli (natif) Indonesia, khususnya yang masuk dalam kategori langka, endemik, atau terancam punah. Dengan begitu, gerakan tanam pohon juga menjadi bagian dari strategi konservasi spesies yang secara ekologis penting dan mulai terdesak oleh berbagai tekanan lingkungan.

Kegiatan ini diselenggarakan secara kolaboratif di 21 titik penanaman yang tersebar di 11 provinsi, dari Aceh hingga Papua, dan melibatkan 21 lembaga kolaborator, termasuk institusi pendidikan tinggi, komunitas masyarakat, dan organisasi lokal. Masing-masing lembaga menyusun rangkaian kegiatan tanam pohon sesuai dengan konteks lokal, sementara FPLI berperan sebagai koordinator nasional, sekaligus penyedia dan penyalur bibit pohon langka ke berbagai lokasi.

Beberapa perguruan tinggi yang turut ambil bagian dalam program ini antara lain:

  1. UIN Saizu Purwokerto
  2. Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED)
  3. Universitas Negeri Malang
  4. Universitas Brawijaya
  5. Universitas Sumatera Utara (USU)
  6. Institut Pertanian Bogor (IPB)
  7. Universitas Kuningan
  8. serta berbagai lembaga masyarakat dan komunitas lingkungan

Dalam momen ini, berhasil ditanam:

  1. 37 jenis pohon yang masuk kategori terancam punah
  2. 25 jenis pohon endemik Indonesia
  3. dengan total sebanyak 323 individu pohon langka

“Program ini bukan hanya tentang penanaman, tapi tentang arah baru dalam konservasi yang lebih tepat sasaran dan berbasis spesies. Kami ingin memastikan bahwa setiap pohon yang ditanam memiliki nilai ekologis, bukan sekadar estetika,” ujar Kordinator program tanam pohon langka serentak FPLI dalam keterangan tertulisnya.

Dengan keberhasilan program ini, FPLI mendorong seluruh pihak di berbagai wilayah Indonesia untuk menjadikan pohon langka dan pohon natif sebagai prioritas utama dalam setiap kegiatan tanam pohon ke depan, agar gerakan hijau benar-benar sejalan dengan pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia.

Universitas Brawijaya Gelar Forest Tracking dan Tanam Pohon Langka

20 November 2024
#konservasi

Universitas Brawijaya (UB) memulai langkah besar dalam upaya pelestarian keanekaragaman hayati dengan meresmikan program konservasi pohon langka, yang dimulai dengan pembentukan Pusat Konservasi Pohon Langka Universitas Brawijaya dan diimplementasikan melalui kegiatan penanaman pohon di kawasan UB Forest.

Kegiatan ini dikemas dalam acara bertajuk “UB Trekking Healing”, sebuah inisiatif untuk mengajak jajaran pimpinan kampus dan sivitas akademika menikmati keindahan dan kesegaran alam UB Forest, sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap konservasi hutan kampus.

Sebagai simbol dimulainya program, dilakukan penanaman pohon langka endemik Jawa Timur, Dehaasia pugerensis oleh Rektor Universitas Brawijaya. Selain itu, jajaran pejabat kampus UB juga turut menanam Dipterocarpus retusus, salah satu spesies pohon langka dari kelompok meranti yang terancam punah.

Program ini merupakan hasil dari kerja sama antara UB Forest dan Forum Pohon Langka Indonesia (FPLI), yang bertujuan menjadikan UB sebagai pusat konservasi dan edukasi pohon langka di lingkungan perguruan tinggi.

“Konservasi tidak bisa hanya dibicarakan, tapi harus dilakukan. Penanaman ini adalah langkah awal dari komitmen jangka panjang UB untuk menjadi bagian dari pelestarian spesies langka Indonesia,” ujar Rektor UB saat penanaman berlangsung.

FPLI menyambut baik komitmen UB, dan menyatakan bahwa hadirnya pusat konservasi pohon langka di kampus besar seperti UB merupakan contoh nyata bagaimana akademisi dapat mengambil peran strategis dalam penyelamatan spesies langka Indonesia.

“Kami berharap UB menjadi pionir konservasi berbasis kampus, tempat mahasiswa tidak hanya belajar teori, tapi juga menjadi pelaku konservasi secara langsung,” kata perwakilan FPLI.

Ke depan, program ini akan dilanjutkan dengan kegiatan persemaian, penelitian pohon langka oleh mahasiswa, serta pengembangan arboretum pendidikan yang dapat diakses oleh masyarakat umum dan pelajar.

Program Konservasi Cryptocarya Endemik Terbatas dan Kemungkinan Punah di Papua Barat

20 Oktober 2024
#konservasi #pohonLangka

Forum Pohon Langka Indonesia (FPLI), bersama mitra lokal dan internasional, memulai pelaksanaan program bertajuk “Konservasi Cryptocarya Endemik Terbatas dan Kemungkinan Punah di Papua Barat, Indonesia” (Conservation of the Narrow Endemic and Possibly Extinct Cryptocarya (Lauraceae) in West Papua, Indonesia).

Program ini bertujuan untuk menyelamatkan dan memastikan keberadaan spesies tumbuhan dari marga Cryptocarya (famili Lauraceae) yang diketahui hanya ditemukan di wilayah Papua Barat dan belum pernah tercatat kembali sejak pertama kali dikoleksi puluhan tahun lalu. Status spesies ini diduga sangat langka, endemik sempit, bahkan mungkin telah punah. Oleh karena itu, upaya konservasi menjadi mendesak untuk mencegah hilangnya keanekaragaman hayati secara permanen.

Tujuan Program:

  1. Survei lapangan dan pencarian kembali populasi Cryptocarya di lokasi-lokasi historis dan habitat potensial.
  2. Verifikasi taksonomi melalui kerja sama dengan ahli botani nasional dan internasional.
  3. Perencanaan konservasi in-situ dan ex-situ, termasuk kemungkinan pembibitan dan penanaman ulang jika ditemukan individu hidup.
  4. Peningkatan kapasitas lokal melalui pelibatan masyarakat dan mitra pendidikan di Papua Barat.
  5. Publikasi dan diseminasi hasil, baik secara ilmiah maupun untuk edukasi publik.

Program ini dijalankan dengan pendekatan partisipatif dan berbasis sains, melibatkan para peneliti botani, pemangku kepentingan lokal, serta komunitas masyarakat adat yang hidup di sekitar habitat pohon tersebut.

“Spesies seperti Cryptocarya yang sangat terbatas distribusinya adalah cerminan betapa penting dan uniknya kekayaan flora Indonesia, khususnya Papua. Jika kita tidak bergerak sekarang, kita bisa kehilangan satu bagian penting dari warisan hayati kita,” ujar Prof. Dr. Tukirin Partomihardjo, Ketua FPLI.

Dukungan Internasional

Program ini didukung oleh Franklinia Foundation, lembaga konservasi internasional yang fokus pada penyelamatan spesies pohon terancam punah secara global. Dukungan ini memungkinkan kerja sama riset, survei, konservasi, dan peningkatan kesadaran terhadap pentingnya spesies endemik Indonesia yang selama ini kurang mendapat perhatian.

Lokasi

Gedung PIKA Bogor - Jl. Raya Pajajaran No.79, RT.02/RW.03, Bantarjati, Kec. Bogor Utara, Kota Bogor, Jawa Barat 16153
© Copyright 2025 - Pohonlangka ID - All Rights Reserved